Monday, November 5, 2012
Friday, November 2, 2012
Cinta&Nikah, Siapa Pilih Yang Mana??
Siapa pilih yg mana dari 2 madzhab ini: Aku menikahinya karena mencintainya? Atau: Aku mencintainya karena telah mencintainya?
Jadi siapa pilih yg mana: Menikahi cinta? Atau: Mencintai nikah? Yg 1 hanya nikah kalo udah cinta. Yg 2 yakin dalam nikah ada cinta
Terima kasih atas semua respon dan komen khususnya dari teman2 fb terhadap ”polling”: Siapa pilih yg mana?#cintanikah
Sebagian meminta tanggapan balik saya, juga jawaban saya sendiri: milih yg mana? Untuk itu terbitlah kultwit ini#cintanikah
Tentu saya pilih yg ke-2: mencintainya karena telah menikahinya. Karena memang itulah madzhab sekaligus fakta saya#cintanikah
Sejak sebelum nikah, bila ditanya: cinta siapa, saya jawab: cinta yg jadi istri saya. Tapi siapa dia? Ya, siapa saja!#cintanikah
Maka dulu sempat hampir mencintai seseorang, tapi harus diurungkan, karena ternyata urung berjodoh, oleh suatu sikon#cintanikah
Akhirnya cintapun, sesuai madzhab, sengaja dilabuhkan kepada yg berhak, ibu-nya anak2, ”akibat” dijodohkan, dan berkah#cintanikah
Saya tidak anti pati atau mengharamkan yg cinta dulu sebelum nikah. Karena rasa cinta-nya sendiri tidaklah haram#cintanikah
Yg berpotensi haram, adalah bagaimana proses tumbuhnya cinta itu, dan apa yg terjadi serta dilakukan dengannya#cintanikah
Tapi ketika cinta sudah dijadikan syarat nikah, seperti madzhab jumhur generasi sekarang, ini yg saya tidak terima#cintanikah
Begitu pula saat cinta telah didaulat menjadi pondasi dan pilar utama bangunan rumah tangga, menggeser agama&akhlak#cintanikah
Pengagungan sedemikian berlebihan terhadap sebuah perasaan, yg bernama cinta, benar2 tidak bisa didiamkan#cintanikah
Padahal semua tahu bahwa, hal paling labil dalam diri manusia, adalah perasaan, wabilkhusus rasa cinta beda jenis ini#cintanikah
Dari sudut syariah, bagaimana syarat cinta pra nikah ini bisa dipenuhi secara aman, syar’i dan tidak melanggar?#cintanikah
Ada 2 opsi. Pertama, cinta itu ada begitu saja secara tiba2 dan tanpa disengaja. Mungkin namanya cinta dadakan#cintanikah
Kedua, cinta itu disengaja, dicari bahkan dikejar. Dan ini yg umum terjadi. Mari jujur merenungi keduanya#cintanikah
Untuk opsi 1, sangat tidak logis hal kebetulan jadi standar. Andai bisapun, juga betapa rapuhnya pondasi seperti itu#cintanikah
Sedang untuk opsi 2, gara2 kejar-mengejar cinta pra nikah inilah, moral yg jadi pilar utama bangsa dipertaruhkan#cintanikah
Awalnya pada berdalih mencari cinta demi nikah. Tapi kini, umumnya judul cinta tak lagi terkait sama sekali dg pernikahan #cintanikah
Lalu, akibat legalisasi pacaran demi cinta semu, moralitas generasipun berada di ambang kehancuran sempurna#cintanikah
Dan maaf, saya kira penganut madzhab pensyaratan cinta sebelum nikah turut bertanggung jawab atas kondisi ini#cintanikah
Ditambah lagi, tak sedikit korban pemberlakuan madzhab cinta pra nikah, yg tak habis2 rasa kasihan saya terhadapnya#cintanikah
Seseorang sampai ”rela” menyiksa diri demi satu sosok saja yg dicinta, akunya. Padahal pilihan tak terbilang jumlahnya#cintanikah
Terus terang, dan maaf, saya hanya paham, ini sebuah kekerdilan sikap sekaligus kenaifan pilihan jalan hidup#cintanikah
Selanjutnya banyak yg ragu, bagaimana kebahagiaan dan kelanggengan hidup berumah tangga bisa digapai tanpa cinta pra nikah?#cintanikah
Namun fakta sejarah berjuta-juta pasangan langgeng nan bahagia sebelum era pacaran, memupus segala keraguan#cintanikah
Ditambah realita tak terhitung pasangan masa kini yg bahagia dan langgeng dalam pernikahan mereka tanpa pacaran#cintanikah
Jika mereka semuanya bisa, mengapa banyak generasi jaman ini tetap bersikukuh tidak bisa dan tidak mungkin?#cintanikah
Inti masalahnya, tiada lain, memang pada telah teracuninya otak, pikiran dan persepsi. Ini yg harus dipulihkan kembali#cintanikah
Maka jika ada yg menolak dijodohkan dg dalih tidak bisa nikah tanpa cinta, juga semata gara2 masalah ”keracunan” ini#cintanikah
Termasuk yg telah berjodoh, tapi mengaku tidak bisa mencintai pasangannya. Padahal bisa punya anak sampai 5 bahkan lebih#cintanikah
Yg lain kadhung jatuh cinta katanya, namun tidak berjodoh, dan mengaku tidak bisa lepas dari cinta tak sampai-nya itu#cintanikah
Nah, untuk semua yg serba ”tidak bisa” itu, hakekatnya bukanlah benar2 ”tidak bisa”, melainkan hanya gara2 ”tidak mau”#cintanikah
Karena terbukti yg mau ternyata bisa. Bisa mencintai pasangan yg dijodohkan. Bisa pula melepas cinta yg tak berjodoh#cintanikah
Sebagai penutup, banyak yg bilang, cinta ’kan tak bisa dipaksakan? Benar, tapi cinta bisa diwajibkan! Dan itu lebih berkah#cintanikah
Akhirnya, maaf teman2, bila ada yg tak berkenan. Ini atas rasa tanggung jawab agama, moral, sosial dan bangsa. Wassalam#cintanikah
Oleh:
Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA
Ingin Dipahami?? Pahamilah Orang Lain!!
5 Indikator Kebahagiaan Kita
Semua orang mendamba kebahagiaan hidup. Apapun jabatan yang disandangnya. Apapun profesi yang digelutinya. Apapun status sosialnya dan levelnya. Berapa usia dan jenis kelaminnya. Dan seterusnya.
Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Indikator kebahagiaan seseorang ada 5 perkara:
(mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad Al Syami).
Kita selaku suami, model apapun, hati kita teramat mekar dan berbunga-bunga jika memiliki bidadari yang taat kepada Allah, rasulnya dan mentaati kita. Seolah-olah surga dunia telah menjadi milik kita. Walaupun kita hidup di tempat yang sepi dari keramaian. Meskipun kita tinggal di rumah gubuk yang reot. Walaupun kita hanya memiliki kendaraan sepeda model 70-an.
Anak keturunan bisa mengangkat atau menjatuhkan martabat orang tua di dunia dan akherat.
Hidup dikelilingi sahabat-sahabat yang bertakwa, merupakan harapan kita insan beriman. Yang akan memperindah dan mencerahkan langit-langit hati kita. Karena mereka akan selalu menularkan warna ketakwaannya kepada kita. Tulus dan ikhlas dalam bersahabat, tak pernah mengharap pamrih dari kebaikannya.
Hidup di tengah-tengah tetangga yang tidak berbudi pekerti mulia, seperti menggenggam bara api. Kesejukan dan kedamaian hidup sirna. Jiwa resah dan hati diselimuti kecemasan.
Sungguh indah, jika kita memiliki income tetap di negeri sendiri tak perlu merantau ke tempat lain apalagi ke luar negeri. Tiada kebahagiaan yang lebih besar kita rasakan daripada berkumpul bersama anak dan istri kita serta kita mampu menafkahi keluarga dari sumber rezki yang halal dan tahyyib.
Mudah-mudahan 5 indikator kebahagiaan hidup ini telah kita miliki di dunia. Dan menjadi inspirasi bagi kita untuk meraihnya di akherat sana. Amien.
Bersyukurlah, Pasti Nikmat Bertambah
Pertama, jenis dan tingkat kenikmatan apa yang lebih banyak diingat dan lebih sering disyukuri?
Kedua, dalam bentuk dan dengan cara apa saja syukur dibuktikan dan diekspresikan?
Maka syukur level tinggi adalah syukur terhadap jenis-jenis kenikmatan tingkat tinggi juga
Disamping ia adalah syukur yang dibuktikan dengan kualitas bukti syukur yang lebih tinggi dan juga kuantitas ekspresi syukur yang lebih banyak macamnya
Sebaliknya, syukur level rendah, adalah karena yang lebih banyak diingat dan disyukuri hanyalah jenis dan bentuk kenikmatan “kelas rendah”
Begitu pula, syukur ditunjukkan dengan kualitas yang rendah, dan kuantitas yang sedikit
Tingkat pertama, tingkat terendah, berupa kenikmatan materi duniawi yang bukan termasuk hajat hidup vital dan asasi, serta yang juga biasanya memiliki banyak opsi pilihan. Misanya seperti: nikmat harta dengan segala jenis dan macamnya, pekerjaan, jabatan, kedudukan, kesuksesan materi dan pilihan-pilihan kebutuhan hidup yang lainnya.
Tingkat kedua, tingkat pertengahan, adalah kenikmatan-kenikmatan yang merupakan kebutuhan-kebutuhan hidup yang bersifat vital dan sangat asasi. Seperti misalnya: nikmat hidup itu sendiri, nikmat umur, nikmat waktu, nikmat nafas, nikmat detak jantung, nikmat kelengkapan dan kesehatan fisik seperti panca indera, dan lain-lain.
Tingkat ketiga, tingkat puncak tertinggi, berupa kenikmatan-kenikmatan sejati dan hakiki. Yakni nikmat hidayah, nikmat iman, nikmat islam, nikmat ketaatan, nikmat ibadah, nikmat amal saleh, nikmat dakwah, dan seterusnya.
Nah, jika direnungkan dan dievaluasi, ternyata syukur kebanyakan kita masih berkelas “rendahan”. Hal itu antara lain, karena bentuk dan jenis kenikmatan yang lebih banyak diingat dan lebih sering disyukuri, barulah kenikmatan-kenikmatan dalam kategori tingkat pertama diatas, yang memang merupakan tingkat terendah. Bahkan persepsi kebanyakan manusia tentang kenikmatan, selalu tertuju dan teralamatkan kepada jenis-jenis kenikmatan materi duniawi ini.
Tentu saja kita tidak mengingkari bahwa, itu semua juga merupakan kenikmatan Allah yang wajib disyukuri. Jadi yang jadi masalah dan salah, bukanlah sikap mengingat dan mensyukuri kenikmatan-kenikmatan materi itu. Tidak sama sekali. Itu sudah benar, dan memang harus begitu. Setiap kenikmatan, sekecil dan serendah apapun, wajib tetap kita ingat dan syukuri!
Maka, dalam rangka muhasabah, evaluasi dan introspeksi diri tersebut, mari banyak-banyak bertanya kepada diri sendiri, misalnya, seberapa sering selama ini kita berucap al-hamdulillah demi mengingat dan menyadari betapa tak ternilainya nikmat hidup, nikmat umur, nikmat nafas, nikmat detak jantung, nikmat kelengkapan dan kesehatan indera, dan seterusnya?
Bukankah kita justru lebih banyak mengabaikan, melalaikan dan melupakan kenikmatan-kenikmatan sejati dan hakiki yang tak terhingga nilainya itu?
Jadi, bukankah kita perlu senantiasa memuhasabahi dan mengevalusi level syukur kita?
Wednesday, October 31, 2012
Cinta Kan Harapan
Saturday, April 11, 2009
Kadang, Diam Itu Emas
Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.
Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar.
Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, “Minggir… minggir! kayu bakar mau lewat!.”
Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.
Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, “Mungkin ia tidak sengaja.” Bangsawan itu embantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, “Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi.”
Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, “Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!” dengan nada sedikit emosi. “Pokoknya saya tetap minta ganti,” lanjutnya.
Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, “Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?” Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya. “
Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.
